Tabloid On Line
07/09/2010
Advertisement
Home > Agama & Budaya
Agama & Budaya
Relasi Produktif Dewan Kesenian Sumenep Dan Perpustakaan Daerah Sumenep PDF Cetak E-mail
13/08/2010

Oleh : Juwariyah Mawardy

Ketika ada pertemuan seni di luar Madura, katakanlah untuk lingkup Jawa Timur dan Pusat, maka nama Sumenep selalu familiar sebagai kota yang memiliki banyak seniman potensial.

Katakanlah dalam seni menulis/ sastra, Sumenep mem  punyai trade merk tersendiri. Terbukti, dalam ajang Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) dan Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS), Sumenep mempakan daerah yang hampir tak pemah absen sebagai peme nang dalam ajang kompetisi menulis tahu nan yang diadakan diknas pusat untuk guru SMA/ SMK/ MA ini. Setiap tahun, senantiasa hadir peserta dari Sumenep. Bahkan di tahun 2005, Sumenep meraih jumlah pemenang sebanyak 10% dari seluruh jSnalis yang berjumlah 50 orang dari masing-masing kategori LMCP dan LMKS. Sehingga para juri berdecak kagum.

Di tahun 2009, Sumenep membanggakan kotanya lagi, dengan tiga orang finalis yang berhasil keluar sebagai pemenang. Masing-masing 2 (dua) orang untuk kategori LMKS yaitu Imam Suhairi dari SMA Negeri I kepulauan Arjasa Sume  nep dan Zaitur Rahiem dari MA Darul Ihsan Pekamban Daya dan 1 (satu) orang kategori LMCP yaitu Juwairiyah dari SMA Raudlatui Ulum Kapedi Bluto Sumenep, yang mewakili Jawa Timur sekaligus. Mereka menyisihkan ratusan peserta dari berbagai propinsi.

Bahkan di bulan November kemarin, Hidayat Raharja, sang sastrawan gaek dari Sumenep, berhasil meraih juara III dalam ajang sayembara buku pengayaan pusat perbukuan diknas pusat yang juga mempakan ajang kom petisi menulis buku pengayaan tahunan yang dilaksanakan diknas. Ajang ini pun untuk guru/ pendidik berbagai jenjang, baik yang masih aktifmaupun yang sudah pensiun, Untuk tahun 2010, ajang pusat perbukuan ini ditutup tanggal 1 Maret 2010. Dan pada tahun-tahun sebelumnya, mulai 2005, 2007,2008, adalah M.Faizi dan M.Musthafa dari SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk, Tamar Saraseh (Seronggi), Ansoryadi (Lenteng), M.Saidi Dahlan (Pasongsongan) dan Suhartatik  Aeng dake), yang telah lebih dulu menjadi peme nang LMKS dan LMCP hingga pemenang lomba pusat perbukuan, mulai tingkat reguler hingga program khusus.

Apakah aiti semua fakta in? Adalah bahwa Sume nep mempakan kota yang subur dengan penulis-penulis, seniman di bidang sastra. Fakta di atas hanyalah salah satu bukti. Bukti yang juga tak kalah kuatnya adalah banyaknya penulis muda yang bermun culan seperti jamur di musim hujan, Hampir setiap bulan ada bedah buku mulai kumpulan puisi, kumpulan cerpen hingga novel di berbagai pesantren, sekolah hingga kan tong-kantong kesenian berupa sanggar.

Mulai dari Sumenep ujung barat, tepatnya pesantren Al-Amien yang memiliki SSA (sanggar sastra Al-Amien), terdapat banyak penulis yang langganan mengisi majalah Horison, satu-satunya majalah sastra nasional di negeri kita. Beberapa pekan kemarin, bedah novel Membunuh Takdir karya Fatarani S di Pon       dok Tegal Al-Amien Prenduan Dan antologi sastra Pekabar Dari Negeri Diyalarium milik Y.Zavien Aundjand yang dibedah di berbagai sekolah, pesantren dan sanggar di Sumenep.

Ternyata, Dewan Kesenian Sumenep (DKS) yang selama ini dianggap adem ayem dalam peran sosialnya sebagai kantong kesenian resmi milik pemerintah, yang tentunya teranggar pasti secara pendanaan, juga tak kalah dan tak ketingga lan. DKS mengeluarkan buku di paruh tahun 2009 kemarin, tepatnya Juli Dua di antaranya adalah antologi sastra Wanita Yang Membawa Kupu-Kupu yang memuat beberapa karya penyair dan cerpenis, baik yang sudah dikenal secara luas dan yang masih baro berkiprah dalam seni sastra. Di antaranya adalah Akhmad Nurhadi Moekri, R.Andi Bachtiar, Arya Wijaya, Agus Salim Faradilla, Moh.Anwar, Moh,Husein Rowy, Kadarisman, Yogi Manggara dan perempuan  Benazir Nafilah dengan kurator M.Fauzi dan Ibnu Hajar. Serta buku antologi puisi Ibnu Hajar dan M.Fauzi yang bertitel Telegram Bulan Juli, juga adalah produk dari DKS Komite Sastra. Bahkan buku Telegram Bulan Juli dan Empat Wajah Negeriku dibedah di Pamekasan pada awal minggu kedua bulan Pebruari.

Meski karya-karya sastra DKS ini tidak dilaunching dalam sebuah forum sastra khusus yang mengundang para penulisnya disertai apresiasi dan bedah karya di kota Sumenep sendiri, akan tetapi bzricu ini benar-benar wujud sebagai sebuah karya putera-puteri Sumenep yang membanggakan kotanya. Karena kalau dilihat dari sudut pandang bisnis, tidak mudah menerbitkan buku, apalagi buku kumpulan puisi yang pasar pembacanya atau pembelinya sangat terbatas dan eksklusif, mengingat tak banyak kalangan yang merasa familiar dengan dunia puisi yang absurd dalam kata dan fakta.Tetapi buku-buku DKS ini toh terbit dengan tanpa kendala dari segi pendanaan.

Berbeda dengan novel dan kumpulan cerpen yang tinggal antri penerbit atau penerbit yang antri naskah, mengingat kini di Indonesia sedang giat-giatnya menerbit  kan buku sastra dan bahkan menfilm kannya.

Mengungkap fakta dunia kepenulisan/ sastra tak lengkap jika tak menyebut dunia ke-pembaca-an alias budaya membaca. Sumenep memiliki Perpustakaan Daerah (Perpusda) resmi milik pemerintah. Alangkah eloknya jika Perpusda ini berkongsi atau berserikat atau bekerja sama dengan DKS, memba ngun kebudayaan membaca dan menulis secara kontinue, terencana, representa tifdan terbuka pada setiap lini swasta.

Sumenep memiliki banyak sanggar, baik yang berada di bawah naungan sekolah,pesantren hingga kampus, lembaga budaya hingga perpustakaan sekolah dan kampus. Dua kantong ini (DKS dan Perpusda) dapat menjadi kapal-kapal yang akan mendayung keberhasilan kesenian bidang sastra di Sumenep bersinergi dengan banyaknya sanggar dan kantong kesenian lain di Sumenep.

 
Berita Sebelumnya